KH Wahib Wahab, Santri Aktifis yang Gemar Berwirausaha

0
93

link :http://www.muktamarnu.com/kh-wahib-wahab-santri-aktifis-yang-gemar-berwirausaha.html

Dunia pergerakan menjadi pilihannya kala bangsa ini tengah dijajah. Usai kemerdekaan diraih, dia juga mengisinya dengan berbagai kegiatan sehingga mengantarkannya menjadi menteri dan jabatan penting lainnya.
Namanya tidak setenar sang ayah, KH Abdul Wahab Chasbullah. Rentang pengabdiannya juga tak sepanjang dan seharum prestasinya. Karenanya sangat wajar bila cukup sedikit orang yang mengenal sosoknya. Namun demikian, sederet kepercayaan dan prestasi telah ditorehkan.

Meskipun terbilang santri salaf lantaran pendidikan kepesantrenannya diselesaikan di banyak pondok, namun Wahib Wahab yang terlahir di Tambakberas Jombang tahun 1918 ini masih mencicipi pendidikan di kampus. Ya, setelah menjelajah ke beberapa pesantren seperti Pondok Seblak (Jombang), Mojosari (Mojokerto), Nganjuk, Kasingan (Rembang), Lasem, dan Buntet (Cirebon) dan tentunya Bahrul Ulum Tambakberas sendiri, Wahib muda melanjutkan pengembaraan ke Merchanthile Institute of Singapore dari tahun 1936-1938. Seakan meneruskan jejak sang ayah, pada tahun 1939 dia melanjutkan belajar ke Makkah meskipun hanya setahun lamanya. Usai itu pengabdiannya banyak dicurahkan di tanah air.

Sarat Khidmat
Saat menjelang kemerdekaan, jabatan lumayan penting dia sandang. Tahun 1940 sebagai Ketua Departemen Penerangan Ansor di Surabaya. Selang dua tahun kemudian, Wahib dipercaya menjadi Ketua Umum GPII Jombang. Saat Kongres Ansor di Solo (1959), Wahib menjabat Ketua I GP Ansor yang sekaligus merangkap Ketua Departemen Siasat. Selanjutnya Wahib juga dipercaya sebagai Ketua I PB Pertanu (Persatuan Tani NU). Dalam berbagai kegiatan Ansor yang mengharuskan keikut sertaan ke luar negeri seperti di Singapura, Malaysia, Kamboja dan Saigon (Vietnam), namanya sering dilibatkan sebagai kontingen.

Ketika bangsa ini tengah membutuhkan orang terpilih dalam pemikiran dan kerja keras dalam pengabdian, namanya juga dilibatkan. Jabatan strategis juga pernah disandangnya yakni antara lain sebagai anggota DPR, Menteri Perhubungan Sipil-Militer serta Menteri Agama.

Namun demikian, ada yang manarik dari sosoknya yakni tidak terlampau pusing dan merindukan jabatan. Terbukti ketika Prof Saifuddin Zuhri dipercaya untuk menggantikan posisinya dari meneri agama, dia tak berkeberatan hati. Malah dengan santai dia menjawab: “Saya capek menjadi menteri agama dan mau istirahat,” katanya kepada Saifuddin Zuhri yang menemuinya demi meminta pertimbangan jabatan menteri agama yang akan dipercayakan oleh Presiden Soekarno. “Saya mau istirahat dan memperbaiki ekonomi saya,” terangnya. Kepada Saifuddin dengan terang-terangan dia katakan: “Saya sangat setuju kalau sampean yang menggantikan saya sebagai menteri agama.”

Dalam sejarahnya, Saifuddin Zuhri menggantikan KH Wahib Wahab sebagai menteri agama. Dan sebagai seorang santri, Saifuddin pun terlebih dahulu meminta pertimbangan serta ijin kepada seniornya itu, apakah dia layak dan pantas menjadi menteri menggantikannya serta apakah ada unsur keberatan dari KH Wahib Wahab atas kepercayaan presiden tersebut.

Bisa dibayangkan, seandainya KH Wahib Wahab kala itu memberikan pertimbangan dan solusi agar Saifuddin Zuhri menolak jabatan tersebut, maka kemungkinannya akan berkata lain. Bisa jadi Saifuddin akan menolak dan tidak bersedia menjabat sebagai menteri agama. Namun lantaran pilihan presiden kala itu dianggap pas dan Saifuddin dipandang layak mengemban kementerian agama, maka dengan legawa KH Wahib Wahab memberikan ijin dan mempersilahkan Saifuddin Zuhri untuk menerima kepercayaan presiden ketika itu.

Usai pansiun dari jabatan menteri yang sedikit mengganggu privasi dan bisnis yang digelutinya, Wahib Wahab akhirnya menetap di Bandung dengan membuka pabrik ubin.
Putra sulung Mbah Wahab ini meninggal di Jakarta, 12 Juli 1986 lalu. Jasadnya tetap disemayamkan di tempat kelahirannya di Jombang berdekatan dengan sang ayahanda. (s@if)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here